
“Kemerdekaan dimulai dari lidah” demikian ucapan Presiden pertama Republik Indonesia, Bung Karno di pertengahan tahun 60an.
Lantang diucapkan di tengah ancaman boikot impor dari negara barat, beliau menginisiasi pembuatan buku “Mustikarasa”. Buku kumpulan 1000 resep masakan dari seluruh penjuru Indonesia. Yang dimasak dengan bahan-bahan asli Indonesia. Simbolik menegaskan, bangsa Indonesia adalah bangsa yang besar dan kaya, tidak akan kelaparan, dengan ancaman boikot sekalipun.
Setelah melalui proses panjang di tengah gejolak politik saat itu, “Mustikarasa” akhirnya diterbitkan di tahun 1967. Saat Bung Karno sudah tidak lagi menjabat. Gaungnya pun ikut meredup. Bahkan menghilang seiring pergantian rejim.

Sampai kemudian buku ini “ditemukan” oleh Febri dan Rofida, pemilik restoran @tepikota_ . Yang memutuskan untuk mengkurasi dan mengeksplorasi resep makanan di dalam “Mustikarasa”. Dan menghadirkannya dalam sesi kuliner privat dengan reservasi di Bejen, pinggir barat Yogyakarta.

Hanya ada dua sesi satu hari. Sesi siang di jam 11, dan sesi sore jam 5. Masing-masing sesi berdurasi tiga jam dengan kapasitas maksimal 10 orang. Dalam sesi tersebut, Febri dan Rofida akan memasakkan makanan yang dipesan sehari sebelumnya. Sembari bercerita soal “Mustikarasa” dan perjalanan mereka menjadi pengusaha kuliner, walaupun sejatinya mereka adalah penggiat seni. Tanpa latar belakang kuliner. Baik pendidikan dan pengalaman.
Namun justru hasilnya adalah sebuah pengalaman kulinari yang unik berkesan. Momennya akrab, cerita sejarahnya memikat, hidangannya lezat. Disajikan dalam kehangatan khas masyarakat Jogja dan dalam suasana tradisional Jawa yang adem.

Kesan yang tertinggal tidak hanya pada lidah. Namun juga pada hati yang bangga. Bangga tersadar bahwa bangsa Indonesia sungguh besar dan kaya. Seperti pesan Bung Karno dalam “Mustikarasa”. Tidak seperti retorika pidato seseorang yang melelahkan.
10/10. Can’t recommend this place highly enough.

