In Memoriam: Path

Seminggu dari sekarang, Path, salah satu social media app yang populer di Indonesia akan tutup warung.

Hiks, sedih.

Karena walaupun saya punya account di hampir seluruh social media, Path memiliki tempat spesial di hati saya.

Well, semua akun sosmed saya memang spesial. Karena saya memperlakukan setiap sosmed berbeda, dan masing-masing punya kegunaan sendiri. Saya pernah menulis mengenai hal ini sebelumnya.

Tapi kalau mau dibuat dalam kerangka sistematis, saya bisa membedakan penggunaan akun sosmed saya dalam dua kuadran: Visibility (tingkat privasi post saya), dan Frequency of Posting (seberapa sering saya mem-posting) – lihat gambar di atas (duh, konsultan banget ya gua?)

Anyway, kalau dari diagram ini jadi jelas mengapa saya akan kehilangan Path.

Karena saya menggunakan Path sebagai sosmed yang (1) relatively private; (2) untuk posting hal-hal ringan, atau istilah kerennya “recehan”.

Dan untuk elemen kedua, yakni privacy, memang saya membatasi teman di Path sebatas teman dekat. Pada awal Path berdiri, kalau tidak salah Path hanya membatasi pada 150 orang teman (ingat nggak sampai pada tulis nama profile pakai embel-embel “FULL”). Saya pikir itu ide yang bagus, karena membedakan diri dengan Facebook yang tidak terbatas skala pertemanannya. Walaupun semakin kemari Path kehilangan ciri khas-nya ini dengan meningkatkan batas pertemanan sampai 300 akun.

Tapi karena limitasi tersebut, dan I decided to make Path relatively private, tidak semua teman Facebook saya add di Path. Saat ini pun masih ada 67 friend request yang belum saya approve. Maaf ya teman-teman kalau salah satu itu adalah kalian. Kita masih berteman kaan? Lagian, postingan saya di Path juga mungkin tidak menarik buat sampeyan. Percayalah, cuman recehan.. coba terus baca sampai bawah ☺️

Ya, recehan. Nah ini dia satu lagi ciri khas Path. Karena sifatnya yang ekslusif dan private, saya cenderung lebih bebas mem-posting hal-hal yang bersifat pribadi dan tidak bernilai tambah untuk masyarakat 🤣

Hanya di Path saya posting gelas kopi saya pas lagi ngafe, membagikan meme-meme lucu, atau pamer barang baru. Hal yang tidak saya lakukan di Facebook atau Instagram. Karena kebanyakan teman dekat saya tahu persis bagaimana reaksi komunitas saya terhadap postingan saya ini. Semacam safe laboratory lah.

Dan ini yang belum tergantikan dengan sosmed lain. Komunitas asyik yang lucu-lucu, jauh dari kontaminasi racun politik cebong kampret seperti di Facebook.

Banyak yang bilang untuk pindah ke Instagram, karena Instagram juga memiliki fitur pengaturan privacy yang mirip-mirip dengan Path. Tapi karena saya dari awal memakai Instagram hanya untuk foto-foto yang memiliki nilai artistik dari sisi fotografi, rasanya kok kurang pas.

Ada juga yang mengusulkan Vero. Sudah install sih, dan sepertinya lumayan mirip Path fiturnya. Tapi kok sekarang masih kayak kuburan. Sepi banget. Sepertinya teman-teman Path belum banyak yang tertarik hijrah ke sana. Belum bisa move on ya, walaupun umur sudah tinggal seminggu ☺️

Kalau merunut ke belakang, saya sudah bergabung di Path selama 6 tahun. Selama 6 tahun ini saya posting 4,165 moments. Berarti rata-rata saya posting 2 kali setiap hari. Busyet, lumayan aktif ya? Aktif gitu tapi enggak pernah beli sticker, ataupun membayar subscriptions. Gimana Path mau survive cobak? 🤣🤣🤣

Anyway di bawah ini beberapa bentuk dan macam postingan saya di Path:

1. Recehan, biasanya foto-foto pas lagi di kafe, tiket nonton bioskop, atau just everyday stuff yang saya rasa lucu dan nggak penting, tapi asyik aja di share. Contoh: pamer salonpas dan pulpen, sambil ngaso di Starbucks saat menjalankan tugas kantor nan epic 2 tahun lalu. Apa cobak?

2. PathDaily, aduh suka banget sama fitur Path ini. Menuliskan perasaan hati dalam one liner, sambil deg-degan berharap background foto yang nongol agak nyambung dengan postingan kita. Fitur yang kemudian ditiru oleh Facebook

3. Relatively Private Stuff. Saya cenderung kurang suka berkeluh kesah mengenai kesusahan saya di sosmed. Tapi kadang-kadang inilah kegunaan Path, karena saya tahu yang membaca hanya teman-teman dan saudara dekat, jadi kalau saya sedang kesusahan, I know you guys will always be there for me (tsaahh). Contohnya saat saya sakit serius dan di operasi di Singapore 4 tahun lalu. Doa-doa teman di Path sangat menguatkan. Makasiih ya teman-teman ☺️🙏

4. Meme Sharing. Nah postingan seperti ini hampir nggak pernah saya post di Facebook. Postingan receh yang sangat menghibur. Berbagi meme yang didapat entah dari twitter, website atau whatsapp. Lucu-lucu, tak berguna tapi penting untuk kesehatan jiwa 😬

5. Pamer barang. Apa sih kegunaan utama dari sosmed kalau bukan buat pamer? Hahaha… eits bener enggak? Coba deh lihat sosmed teman-teman kalian. Mulai dari pamer kegantengan/kecantikan (aka selfie), pasangan, keberhasilan anak, kesuksesan karir, sempurnanya hidup sampai ketaatan beragama (ups, hati-hati riya tuuh 😋). Nah, kalau bagi saya Path media aman untuk pamer barang-barang kesukaan. Dari as simple as CD games terbaru, cufflink, baju batik sampai jam dan mobil. Gakpapa kan, yang penting bahagia? Karena teman-teman saya di sini sudah tahu lah siapa saya. I won’t get any brownie points from you guys. Daripada saya pamer di Facebook nanti lebih banyak yang melabel saya hedonis dan sombong. Sutralah 😝

6. Cross Posting. Tapi sebagaimana kebanyakan teman-teman saya, saya juga kadang melalukan cross posting kok. Yakni postingan yang sama diunggah di beberapa media. Kalau yang seperti ini umumnya selain mengunggah ke Path, saya juga post ke Facebook dan blog saya di WordPress. Topik-topiknya biasanya bersifat umum, seperti liburan keluarga, aktifitas bersepeda, pengalaman menarik di suatu tempat, atau suatu perayaan, seperti perayaan ulang tahun pernikahan seperti yang saya unggah ini.

Ya sudahlah, all good things come to an end. Terima kasih Path, yang sudah mewarnai hari-hari kami selama 6 tahun dengan momen-momen tidak penting namun lucu dan membahagiakan hati.

Untuk teman-teman saya di Path, see you again! Wherever it is!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s