Ketika Harapan dan Kenyataan Beradu

Alhamdulillah, doa kita semua terkabul. Setelah agak kering gol di minggu pertama penyelenggaraan, Piala Dunia Russia ini beringsut menjadi salah satu turnamen yang paling menarik.

Partai atraktif, hasil mengejutkan, dan gol-gol dramatis tercipta. Penikmat sepakbola di seluruh dunia disuguhkan hiburan berkelas. Bahkan drama kontroversi keputusan melalui teknologi Video Assistant Referee (VAR) pun menjadi tontonan mendebarkan.

Total dari 48 pertandingan babak penyisihan grup, 122 gol tercipta. Rata-rata 2.5 gol per pertandingan mendekati rerata Piala Dunia tahun lalu, yakni 2.7 gol yang merupakan rerata gol terbanyak kedua sepanjang sejarah (tertinggi adalah Piala Dunia 1982).

Menariknya, baru pada pertandingan ke-38, partai Piala Dunia Russia berakhir dengan kedudukan kacamata 0-0 (Denmark vs Perancis). Kontribusi VAR dalam mencermati seluruh aksi di kotak penalti ternyata ikut memberikan andil dalam banyaknya partai yang dihiasi dengan gol tendangan penalti. Walaupun pengamat sepakbola dunia masih pro dan kontra, tapi tidak pelak lagi, VAR akan tercatat dalam momen sejarah Piala Dunia dengan penggunaannya pertama kali di Russia ini. Dan sejauh ini menurut saya, it adds suspense and drama to (already) beautiful game. VAR rocks!

Nah malam ini babak knock-out akan dimulai. Kejutan terbesar pasti adalah pulangnya tim Jerman dengan menduduki posisi juru kunci. Ini meneruskan tradisi gagalnya juara bertahan lolos dari fase grup sejak tahun 1998 (hanya di tahun 2006 saja Brazil sebagai juara bertahan dapat lolos). Selain Jerman, nota bene tim-tim unggulan semua lolos, walaupun mungkin tertatih-tatih, seperti Argentina.

Nah di babak ini lah saat dimana harapan akan bertemu kenyataan. Saat sejarah mencatat Piala Dunia tidak mengenal romantika. Tapi juga saat legenda ditasbihkan. Menarik kita menilik beberapa harapan yang membuncah di masyarakat sepakbola, dan memperkirakan harapan yang akan berlanjut?

  • Harapan Sang Messias. Saya mungkin salah satu dari banyak pendukung sepakbola yang berharap Messi untuk memformalisasikan status legendanya dengan membawa Argentina sebagai Juara Dunia. Tempat Cristiano Ronaldo sebagai salah satu legenda sepakbola sudah terpatri dengan juaranya Portugal di Piala Eropa tahun lalu. Tak ada yang lebih memotivasi Messi untuk melakukan hal yang sama. Dan Russia tampaknya akan menjadi kesempatan terakhir bagi Messi. Tanda-tandanya sudah ada. Gol brilyan saat melawan Nigeria telah menghadirkan kembali harapan ini.
  • Saatnya Generasi Emas Belgia. Lukaku, Hazard, DeBruyne, Alderweireld, Courtois – nama-nama yang bisa otomatis langsung masuk menjadi starter tim manapun di dunia ini, saat ini ada di timnas Belgia. Di atas kertas memang line up tim Belgia memang yang paling komplet dan mengkilap. Tak heran kalau tim ini digadang-gadang sebagai “generasi emas” timnas Belgia, melebihu era terbaik mereka bersama Enzo Scifo dan Jean-Marie Pfaff di tahun 80an. Dan harapan semakin memuncak dengan suksesnya mereka memenangi semua pertandingan di Grup G. Pertanyaan adalah apakah mereka memiliki mental juara seperti “generasi emas” Spanyol (Xavi, Iniesta, Torres), atau bernasib sama dengan “generasi emas” Inggris di jaman Beckham, Gerrard, Lampard dan Rooney, yang gagal total di Piala Dunia (hiks)? Tidak ada saat yang lebih baik lagi untuk membuktikan daripada saat ini.
  • Brazil’s Redemption. Tragedi Maracana empat tahun lalu masih terekam jelas di benak fans Brazil. Harapan memuncak untuk juara di kandang sendiri kandas secara tragis dan brutal di tangan Jerman. Kalah 7-1 di semifinal, tabloid Brazil menuliskan headline esok harinya, “Control-Alt-Del Brasil Football”. Waktunya reset. Dan inilah saatnya. Menggantungkan pada kejeniusan Neymar dan Coutinho, fans Brazil ingin menghapuskan kenangan buruk itu selamanya. Mereka berharap sukses Ronaldo menjuarai Piala Dunia 2002 terulang. Saat itu juga mereka terhantui kenangan buruk kalahnya Brazil di final Piala Dunia empat tahun sebelumnya. Namun penampilan buruk nan misterius sang bintang di Paris terhapuskan dengan memori senyum lebar dan rambut poni unik saat ia mengangkat Piala Dunia di Jepang. Dipastikan tangisan Neymar akan kembali hadir. Hanya saja, apakah itu tangisan gembira atau sedih?
  • Football is Coming Home. Berbekal pemain muda dengan rerata caps terendah sepanjang sejarah, Gareth Southgate berhasil meramu Three Lions dengan permainan menyerang yang atraktif. Ditambah lagi dengan munculnya sosok protagonis di tubuh sang kapten Harry Kane, yang saat tulisan ini dibuat menjadi top scorer sementara. Tim yang semula tidak membawa harapan masyarakat sepakbola Inggris seketika mendapatkan puja puji dan iringan doa untuk menghadirkan gelar Juara Dunia yang kedua bagi negara asal sepakbola ini. Football is finally coming home! Or is it really?

Harapan mana yang sama dengan Anda? Saat Anda membaca ini mungkin beberapa harapan ini sudah punah ditelan kenyataan. Tapi itulah mengapa Piala Dunia begitu dinantikan. Karena layaknya hidup, kekuatan harapan senantiasa membawa semangat dan menggerakkan segenap raga. Apapun yang terjadi.

Selamat menyaksikan!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s